Warisan yang Diracik Sempurna

Sebuah ruko sederhana di Gading Boulevard mungkin tak langsung menarik perhatian. Dinding putih, trim hijau mint, dan meja panjang bergaya kantin menciptakan suasana yang bersahaja. Namun, saat jam makan siang tiba, suasananya berubah: pekerja kantoran yang lapar dan pengunjung baru duduk berdempetan, disatukan oleh uap panas yang mengepul dari mangkuk kecil berisi coto. Rasa lapar dan rasa penasaran sama-sama terpuaskan di sini—setiap sendok membawa kehangatan jiwa khas Makassar.

Coto Daeng Tayang bermula dari sebuah warung kecil pada 1990-an yang didirikan oleh Daeng Tayang (Pak Haji) sendiri. Ia membawa warisan keluarga yang tak hanya terikat pada semangkuk sup daging, tapi juga pada seni berdagang. “Rata-rata hampir seluruh keluarga itu pedagang coto semua,” ujar Andri Hasan, sang putra yang kini melanjutkan bisnis keluarga. Bagi Pak Andri, masa kecilnya adalah pendidikan tentang ketelitian ayahnya dan keyakinan bahwa kualitas harus selalu didahulukan dibanding keuntungan.

Esensi warisan itu dijaga dengan cermat. Untuk memastikan rasa kuah tetap setia pada cita rasa Sulawesi Selatan, setiap rempah, bumbu rahasia, hingga bawang goreng dikirim langsung dari Makassar. Sambalnya pun buatan sendiri, racikan khas keluarga. “Biar rasanya tetap sama. Autentik dari Makassar,” ujar Pak Andri, menegaskan komitmen yang tak bisa ditawar. Setiap pagi, sebelum toko dibuka, ia mencicipi kuah yang telah direbus lama. “Kalau sudah pas, baru bisa dibuka,” katanya.

Keputusan membuka cabang di Kelapa Gading pada 2023 lahir dari dorongan para pelanggan setia. Pencinta coto yang merindukan cita rasa kampung halaman meminta keluarga Andri hadir di Jakarta. Setelah meninjau kawasan ini, keluarga Pak Andri melihat potensi besar di jalur kuliner Gading Boulevard. Meski begitu, awalnya tak mudah. “Sempat juga agak-agak sepi awal-awal buka, beberapa bulan. Tapi kami bertahan,” Pak Andri mengenang. Ketekunan itu akhirnya berbuah manis: dalam waktu sekitar 10 bulan, pengunjung mulai datang kembali dan menjadi pelanggan tetap.

Fokus interior kedai ini sepenuhnya tertuju pada makanan. Di bagian depan, meja stainless steel tempat pemotongan daging menjadi pusat perhatian. Di sana, pisau besar menari memotong daging, jeroan, dan lidah sesuai dengan pesanan. Saat kuah disiramkan, uap harum langsung memenuhi ruangan. Bagi Pak Andri, lidah sapi adalah bagian yang wajib dicoba. “Kalau saya makan semua. Tapi favorit emang lidah,” katanya. Pelanggan bisa menambahkan jeruk nipis atau sambal, menjadikan setiap mangkuk sebagai pengalaman pribadi yang khas.

Meski berpegang pada tradisi, Coto Daeng Tayang tetap terbuka terhadap penyesuaian. Ketika membuka cabang di Jakarta, keluarga Andri memperhatikan kebiasaan makan pelanggan setempat. Dari pengamatan itu, muncul satu pola menarik: setelah menikmati sup gurih dan berlemak, warga Gading biasanya mencari sesuatu yang manis. Dari situlah muncul tambahan menu Es Pisang Ijo dan Kue Barongko—dua makanan pencuci mulut khas Makassar yang sebelumnya tidak ada di cabang awal.

Adaptasi yang sederhana tapi cerdas ini melengkapi pengalaman makan: dari gurih tradisi hingga manisnya penutup. Sebuah bukti bahwa menjaga warisan bukan berarti menolak perubahan, melainkan mendengarkan selera komunitas yang dilayani.

Dedikasi keluarga terhadap cita rasa ini bahkan telah membawa coto mereka menyeberang benua. Pak Andri mengenang momen membanggakan ketika pemerintah Sulawesi Selatan mengundang mereka untuk menyajikan coto pada acara buka puasa di Kedutaan Besar Indonesia di Den Haag, Belanda. Sambutannya luar biasa. “Betul-betul habis, nggak tersisa,” katanya, masih kagum akan antusiasme tamu-tamu yang mencicipinya ribuan kilometer dari tanah asal.

Fokus terhadap kualitas adalah warisan dari sang ayah, Pak Haji, yang kini telah berusia lebih dari 60 tahun. Ia masih kerap datang untuk mengecek, membawa semangat kerja yang menular. “Semangatnya tinggi, orangnya bersih,” ujar Pak Andri, menggambarkan keteguhan ayahnya. “Kalau nggak cocok, ya, nggak usah dijual. Mending nggak usah dibuka dulu.”

Ke depan, visi Pak Andri melampaui batas dapur dan ruang makan. Selain berencana membuka cabang di setiap kota besar, ia tengah mempersiapkan produk baru: coto kemasan yang tahan lama tanpa perlu pendinginan. Inovasi ini lahir dari permintaan pelanggan yang ingin membawa rasa Makassar ke luar negeri—membuka peluang agar cita rasa ini menjangkau diaspora Indonesia dan penikmat baru di seluruh dunia.


Perjalanan sebuah warung kecil di tahun 90-an hingga kini adalah kisah tentang kekuatan tradisi kuliner dan keteguhan seorang pedagang. Pak Haji membangun dasar lewat kualitas tanpa kompromi; kini Pak Andri meneruskan dengan jembatan menuju dunia. Setiap kali ia mencicipi kuah sebelum toko dibuka, ia memberikan penghormatan terhadap komitmen yang diwariskan lintas generasi.


Discover Other Stories