Udara pagi di Kelapa Gading punya kelembapan yang khas—perpaduan antara aroma garam laut dan uap panas yang mengepul dari ratusan dapur pinggir jalan. Di Jalan Sumagung 3, persaingan untuk memperebutkan selera warga sangatlah ketat. Aspal di sepanjang jalan ini merupakan medan tempur bagi deretan kuliner legendaris; tiap kedai dan ruko punya klaim atas sejarah panjang makanan di Jakarta. Di tengah kepungan raksasa kuliner itulah, Ba’so Leo Solo berdiri.
Tempatnya semi-terbuka, tidak mencoba bersaing dengan kemilau bangunan ruko yang lebih modern di sekitarnya. Di pusat operasional ini, ada Pak Sardji. Ia pria yang hemat bicara, sering terlihat di balik kacamata tebalnya, fokus sepenuhnya pada pekerjaan di depan mata. Sebagai perantau Jawa tulen pada masanya, ia adalah pekerja keras yang tiba di Jakarta pada 1982 dengan modal nekat.
Suasana di Ba’so Leo Solo mencerminkan sejarah ini. Sebuah gerobak tradisional terparkir tepat di bagian depan kedai, berfungsi sebagai pusat komando tempat Pak Sardji meracik setiap porsi. Meskipun bakso dan kuahnya disiapkan di dapur terpisah, penyajian akhirnya dilakukan di sini. Di belakang gerobak, tersedia beberapa meja dan bangku kayu sederhana yang menunggu pelanggan.
Perjalanan Pak Sardji untuk mendapatkan tempat permanen ini tidaklah mulus. Ia memulai kariernya pada 1983 sebagai pedagang keliling, mendorong gerobaknya melewati jalanan Kelapa Gading yang saat itu belum diaspal dan penuh lubang. "Tapi sebelum begini, dulu memangkal. Kita dulu muter," ia mengenang, menggambarkan masa ketika kawasan itu masih dalam tahap pembangunan. Barulah pada 1990 ia berhasil mengontrak tempat tetap, itu pun sempat berpindah lokasi beberapa kali sebelum akhirnya menetap di lokasinya yang sekarang.
Bagi Pak Sardji, sebagian dari masa sejarah kedainya didefinisikan oleh perjuangan untuk bertahan hidup. Pada awal 1990-an, saat baru mulai menetap di satu tempat, ia berhadapan dengan preman dan mafia lokal yang menguasai ekonomi sektor informal. Orang-orang ini menjadi bayang-bayang yang terus mengganggu usahanya yang baru mulai tumbuh. Ia menceritakan pengalaman masa itu seolah-olah para preman itu hanyalah faktor lingkungan biasa, tak ada bedanya dengan jalan berlubang atau cuaca panas.
Intimidasi terjadi terus-menerus. Pak Sardji menceritakan bagaimana orang-orang itu datang tepat saat ia baru buka pada sore hari, lalu duduk seenaknya di atas meja makan. Aksi menduduki meja itu saja sudah cukup untuk membuat pelanggan takut mendekat. Selama berpuluh-puluh tahun, sosok-sosok ini perlahan menghilang—ada yang pindah, ada pula yang meninggal dunia—hingga akhirnya lingkungan sekitar menjadi stabil.
Meski ditekan oleh kerasnya ibu kota, Pak Sardji tetap teguh menjaga integritas hidangannya. Baksonya adalah cerminan dari akar Solo-nya, dengan ciri khas kuah yang cenderung gurih dan sedikit lebih asin. Ia sangat bangga akan ketahanan produknya dan enggan mengikuti tren bahan tambahan instan. Ia menyebutkan bahwa baksonya bisa direndam di dalam kuah panas selama satu jam tanpa hancur atau menjadi lembek.
Komitmen pada resep asli inilah yang membuat Pak Sardji skeptis terhadap tren makanan kekinian. Ketika kedai lain mengejar viralitas dengan menu seperti “bakso beranak” atau bakso isi keju, Pak Sardji tetap pada jalurnya. Ia menganggap semua itu hanya gangguan sesaat. Ketika ditanya apakah ia tertarik mencoba eksperimen bakso isi keju, penolakannya datang seketika. Baginya, bisnis yang dibangun di atas tren sesaat akan cepat basi, sementara gaya Solo klasik telah menghidupinya sejak 1980-an.
Sejarah Ba’so Leo Solo juga merupakan sejarah cobaan fisik lingkungan sekitarnya. Pak Sardji ingat betul banjir besar pada 2002 dan 2007. Banjir pada 2007 begitu parah hingga usahanya harus tutup total selama seminggu, dengan ketinggian air yang merendam rumah-rumah warga yang saat itu mayoritas masih satu lantai. Namun, ia bertahan. Setiap kali air surut, ia langsung membersihkan gerobaknya, menyiapkan kuah, dan kembali berjualan.
Kini, seiring bertambahnya usia, Pak Sardji mulai mengalihkan perannya. Ia sudah melibatkan anak-anaknya dalam pengelolaan kedai, memastikan proses pembuatan bakso secara manual yang menguras tenaga ini tetap berlanjut ke generasi berikutnya. Pesannya untuk para penerusnya sederhana: jangan pernah main curang atau memangkas kualitas. Ia percaya bahwa lidah pelanggan adalah hakim paling jujur dalam berbisnis.
Ketangguhan Ba’so Leo Solo terpancar dari wajah-wajah yang duduk di meja makan. Pak Sardji menyebutkan ada pelanggan setia yang dulu datang saat masih SMP, dan kini kembali lagi membawa anak-anak mereka ke bangku yang sama. Baginya, kemajuan bisnis tidak diukur dari branding yang mentereng, melainkan dari siklus antargenerasi ini. Ia pun tak ambil pusing dengan banyaknya kedai bakso baru yang jauh lebih keren dan modern di sekitarnya.
Rezeki masing-masing. Rezeki udah diatur sama yang kuasa. Kita semua syukurilah," ucapnya.
Prinsip sederhana inilah yang membuatnya mampu melewati banjir, kerusuhan, hingga perubahan selera kuliner di Kelapa Gading. Saat bangunan di sekitar Jalan Sumagung 3 terus dibongkar dan dibangun kembali, Pak Sardji akan menjaga kuahnya tetap panas dan terus meracik mangkuk demi mangkuk bagi siapa saja yang datang menghampiri gerobaknya.