Bagi sebagian besar pengunjung yang baru pertama kali datang di Guapatlu Khas Bakmi Jambi, semangkuk mi di sini biasanya disambut dengan rasa terkejut, yang kemudian diikuti oleh sedikit rasa bingung. Hal itu karena mi yang disajikan tampak hampir "polos": helaian mi tanpa bumbu pekat di bawah taburan samcan goreng dan irisan daun bawang. Semangkuk kuah kaldu, daging babi cincang, dan bakso ikan disajikan terpisah. Pemandangan ini sangat jauh berbeda dari tumpukan mi mengilap dan berminyak yang melimpah dengan topping, yang biasa diasosiasikan oleh warga Kelapa Gading dengan bakmi pada umumnya.
Namun, di balik penampilannya yang bersahaja, terdapat tradisi kuliner yang dibentuk oleh migrasi antargenerasi, pengaruh Tionghoa, dan adaptasi lokal yang khas dari Jambi. Ini adalah rasa rumahan sebagaimana diinterpretasikan oleh sang pemilik, Om Franky dan Tante Imelda, yang bertekad untuk memperkenalkan cita rasa mi Jambi tanpa mengurangi karakter aslinya demi menyesuaikan dengan lidah orang Jakarta.
“Pasti kalau yang bukan Jambi, mereka pada kaget. ‘Kok mi itu cuma begini? Dagingnya mana?’” ujar Om Franky sambil terkekeh.
Sekilas, Om Franky terlihat lebih nyaman diam dan menyendiri di balik area dapur. Namun, segalanya berubah begitu obrolan beralih ke soal mi. Saat berdiri di depan wajan, atau ketika menjelaskan logika di balik tampilan bakmi Jambi yang terkesan “kosong” itu, ia perlahan menjadi sangat bersemangat. Ia berbicara penuh gairah soal tekstur, kaldu, dan profil rasa.
Di sisi lain, Tante Imelda menjadi penyeimbang yang alami. Ia mondar-mandir di area restoran, menyapa pelanggan, dan membuka percakapan dengan mudah. Selama hampir setahun terakhir, mereka bersama-sama perlahan meyakinkan pelanggan Kelapa Gading bahwa jiwa bakmi Jambi memang sejak awal tidak pernah dimaksudkan untuk ditaruh di atas mi.
“Image-nya ini mahal karena lihatnya itu polos,” kata Tante Imelda. “Padahal, kita kan dagingnya di kuah. Uniknya di situ ya.”
Seperti kebanyakan bisnis kuliner yang lahir di era pandemi, Guapatlu awalnya berdiri bukan karena lompatan bisnis yang penuh perhitungan matang, melainkan dari upaya untuk mengisi hari-hari yang menjemukan di rumah. Selama masa lockdown, Om Franky, yang sebelumnya bekerja di luar dunia kuliner, menemukan dirinya kembali ke sesuatu yang selalu ia nikmati secara diam-diam: mengolah tepung. Obsesi ini awalnya dimulai dengan membuat kue hingga akhirnya ia mulai bermain-main dengan ide membuat mi sendiri.
“Begitu Covid, kan kita banyak waktu ‘gabut’,” kenang Tante Imelda. “Saya bilang, ‘Ini ada tepung, bikin bakmi lah.’”
Awalnya mi itu hanya dibuat untuk stok freezer di rumah. Om Franky membuatnya sendiri di dapur rumah, sementara Tante Imelda membagikannya ke teman dan keluarga—banyak di antaranya berasal dari keluarga Jambi yang tersebar di Jakarta.
“Akhirnya kita bagiin temen, terus temen bilang, ‘Gila, bakmi lu udah oke, nih. Kenapa nggak buka (restoran)?’”
Saran itu terus terngiang, berbarengan dengan keluhan yang sering terdengar dari kerabat yang tinggal di Jakarta Utara: setiap kali mereka mengidam bakmi Jambi, mereka harus berkendara jauh ke arah Jakarta Barat atau Tangerang untuk menemukannya. Sementara Kelapa Gading, terlepas dari kultur bakminya yang sangat padat, masih sangat jarang menyajikan cita rasa kuliner Jambi. Ketika sebuah bekas kedai bakmi kosong tersedia di Boulevard Raya, Om Franky langsung mengendarai motornya untuk memeriksa lokasi itu sendiri. Tidak lama kemudian, Guapatlu resmi membuka pintunya di lokasi tersebut pada Mei 2025.
“Hari pertama dapet lima mangkok saja kita sudah seneng banget,” Tante Imelda mengingat.
Namun, tantangan langsung datang. Salah satu karyawan mereka menghilang setelah hari pertama bekerja sehingga memaksa pasangan ini untuk mengurus hampir semua hal berdua saja: memasak, membersihkan meja, mencatat pesanan, dan menjelaskan konsep bakmi Jambi berulang kali kepada pelanggan yang kebingungan.
Di dapur, kontras di antara keduanya terasa makin jelas. Om Franky tidak bisa membiarkan sesuatu terlalu lama tanpa diutak-atik. Tante Imelda menggambarkannya sebagai sosok yang tidak bisa diam—selalu bereksperimen, mengubah, dan menyempurnakan sesuatu.
“Yang sudah bener ngapain lo kacak-kacak lagi?” katanya, dengan nada yang terdengar setengah gemas dan setengah sayang.
Bahkan, setelah seharian bekerja di restoran, Om Franky masih menghabiskan malam dengan menonton video memasak demi menyempurnakan tekniknya. Sementara Tante Imelda menjadi penyeimbang di sisi operasional: menghadapi pelanggan dan menjaga suasana restoran tetap hangat saat rasa lelah mulai berubah menjadi gesekan.
Karena seperti pernikahan pada umumnya, ada masa-masa ketika kesabaran mulai menipis.
Perselisihan kecil di dalam dapur yang panas bisa dengan cepat membesar jika ditambah jam kerja yang panjang, tekanan finansial, dan keluhan pelanggan. Tantangannya menjadi jauh lebih sensitif ketika suami dan istri juga menjadi mitra bisnis, yang dipaksa untuk memikul kecemasan hidup rumah tangga dan restoran secara bersamaan.
“Manusia menajamkan manusia,” katanya. “Di situ proses buat saya dan dia. 'Lo bisa nahan diri nggak? Bisa menghargai nggak?'”
Setahun setelah buka, Guapatlu mulai didatangi pelanggan tetap dari BSD, PIK, sampai Bogor. Orang-orang Jambi yang datang kadang berhenti sejenak setelah menyeruput kuah pertama, seolah-olah ada rasa familier yang langsung muncul begitu saja.
Momen-momen seperti itu jauh lebih berarti bagi Om Franky dan Tante Imelda dibanding sekadar sensasi baru. Filosofi Guapatlu memang sejak awal selalu berpusat pada rasa akrab—bahkan sampai ke namanya.
“Guapatlu” jika diterjemahkan secara bebas dari bahasa Hokkien berarti “aku kenal kamu”. Hal ini membawa rasa kedekatan dan keakraban yang terasa sangat pas dengan atmosfer yang perlahan mereka bangun selama setahun terakhir.
Dan di balik semua obrolan seputar tampilan bakmi Jambi yang polos, hal yang sebenarnya ingin dipertahankan oleh pasangan ini jauh lebih abstrak daripada sekadar topping atau penyajian. Di sini, Bakmi Jambi tidak sedang diciptakan kembali, juga tidak sedang dilunakkan agar langsung terasa akrab bagi lidah orang Jakarta. Sebaliknya, Om Franky dan Tante Imelda dengan sabar mengundang seisi kota untuk mengenal lebih dekat semangkuk hidangan yang telah lama menjadi rumah bagi orang lain.