Sebelum menjadi salah satu ikon hidangan laut legendaris di Kelapa Gading, Santai Malam 1001 hanyalah sebuah tenda yang harus melawan angin. Di atas lahan kosong di Kelapa Gading, tiang-tiang besi ditancapkan ke tanah dan terpal direntangkan menantang malam. Ketika embusan angin datang kencang, kegiatan memasak terpaksa berhenti. Api yang masih menyala di bawah panci ditinggalkan begitu saja, sementara para staf bergegas memegangi rangka tenda dengan kedua tangan, menahan sekuat tenaga agar tenda tidak terangkat. Para pelanggan tetap melanjutkan makan, sementara struktur di atas mereka berguncang.
Hari ini, Seafood Santai Malam 1001 menempati bangunan permanen di sepanjang Boulevard Raya. Ruang makannya sejuk, terang, dan cukup luas untuk menampung ratusan orang. Tak ada lagi yang bergerak atau terancam terbang. Ketika berdiri di dalam ruang makan yang lapang itu, sulit membayangkan bahwa restoran ini dahulu bergantung pada seberapa keras angin berembus.
Sang pendiri, Irhandi Laiman, masih memperkenalkan dirinya dengan kebanggaan yang terlihat jelas. Ia pertama kali membuka usahanya pada 10 Oktober 1990, tepat di seberang lokasi yang kini menjadi Mall Kelapa Gading 3. Saat itu, mal tersebut masih berupa satu bangunan, sedangkan lahan di sekitarnya masih berupa tanah kosong yang dipenuhi semak liar. Ia memulai usaha sebagai pedagang kaki lima, berjualan di bawah tenda yang berdiri di atas lahan tak terpakai.
Tidak ada latar belakang pendidikan kuliner formal, juga tidak ada cita-cita panjang untuk menjadi seorang pengusaha restoran. Sebelum membuka lapak, ia membantu kerabat mengelola toko obat dan buku. Memasak hanyalah sesuatu yang ia sukai—sebuah kegemaran yang sudah ada jauh sebelum menjadi sumber penghidupan.
Kecintaan itu bermula sejak kecil. Saat tumbuh dewasa, ia terbiasa meracik masakan dari apa pun yang tersedia, menjadikan kaleng susu sebagai panci darurat, dan berpura-pura memanggang ikan di atas api terbuka. Ketertarikan pada api dan bumbu datang sejak dini, dan tak pernah benar-benar hilang.
Nama restorannya pun lahir dari sesuatu yang personal. Selepas bekerja, ia dan sang istri sering pergi makan malam dan berlama-lama menikmati waktu bersama. “Waktunya santai,” begitu yang terlintas di benaknya. Dari malam-malam yang tenang itulah muncul nama Santai Malam. Sementara angka 1001 lebih berani—dengan tawa kecil ia menjelaskan, “Dalam seribu masakan, nggak ada yang sama yang saya ciptakan sendiri.”
Pada awalnya, menu yang ditawarkan sangat sederhana: kerang rebus, kangkung, dan satu jenis saus Padang. Mereka memasak dengan kompor sederhana dan menerangi lapak menggunakan lampu petromaks. Listrik belum tersedia. Hujan masih bisa diatasi, tetapi angin adalah musuh utama. Tenda ditambatkan pada enam titik dengan tiang besi, dan ketika angin kencang menyapu lahan terbuka itu, kegiatan memasak harus dihentikan. Para staf memegangi rangka tenda dengan kedua tangan agar tidak terangkat. “Kita nggak bisa masak lagi, pegang itu tenda,” dia mengenang. Sementara itu, pelanggan tetap makan, dan semua orang hanya bisa berharap tenda tersebut tidak sampai terbang.
Ia tidak meromantisasi masa-masa itu. Waktu yang berat, penuh pilihan sulit antara menjaga api di kompor atau menahan kanvas agar tak terseret angin. Namun, pada 1994, ia berhasil mendapatkan lokasi permanen. Bertahun-tahun kemudian, ketika pembangunan mengubah wajah kawasan tersebut, ia kembali pindah ke lokasi permanennya yang sekarang di Boulevard Raya.
Kelapa Gading telah banyak berubah sejak 1990. Jalan-jalan yang dulu terputus kini saling terhubung ke berbagai arah, dan jalur LRT membentang di langit. Pusat perbelanjaan bertambah, tapi jumlah restoran bertambah lebih cepat lagi. “Dari ujung ke ujung, mungkin delapan puluh restoran,” ujar Om Irhandi, memperkirakan padatnya tempat makan di kawasan itu. Menyadari ketatnya persaingan, Santai Malam 1001 tetap bertahan dengan keyakinannya sendiri.
Ketika menceritakan masa-masa awal saat pelanggan merespons masakannya dengan antusias, suaranya sempat bergetar. “Sedih, bahagia,” katanya pelan, berhenti sejenak untuk menenangkan diri. Ia mengusap mata, seolah-olah ikut terkejut oleh gelombang emosi yang datang tiba-tiba. Kebanggaan itu terasa begitu dalam. Baginya, mampu menciptakan hidangan yang benar-benar disukai orang lain adalah pencapaian yang paling ia hargai.
Hidangan-hidangan andalan sering kali lahir dari preferensi pribadi. Misalnya, karena tak menyukai tekstur kerang hijau yang direbus karena terasa berlendir, ia memutuskan untuk menggorengnya meski sempat diragukan para staf. Namun, cara itu bertahan, dan seiring waktu menjadi salah satu ciri khas restoran—dipesan oleh pelanggan setia, bahkan kerap dibungkus dalam jumlah besar oleh pejabat yang bepergian ke luar negeri.
Kepiting saus Padang pun punya penggemar fanatik, begitu juga ikan tauco dengan cita rasa gurih yang kuat. Bahkan, kangkung—hidangan sederhana yang jarang mendapat sorotan—memiliki tempat istimewa di hati pelanggan. Ia pernah tanpa sengaja mendengar orang-orang di sebuah lift di Singapura mengenang rasa kangkung tersebut, tanpa menyadari bahwa penciptanya berdiri di samping mereka. Pada momen-momen itulah ia mulai benar-benar merasakan dampak dari apa yang sudah ia bangun selama ini.
Om Irhandi mengenang banyak pelanggan yang sudah datang sejak masa warung tenda. Sebagian dari mereka dulu datang sebagai pasangan muda, lalu kini datang bersama anak dan cucu. Mereka bercerita kepada staf bahwa mereka sudah makan di sana sejak awal, dan ia mendengarkan kisah-kisah itu dengan rasa syukur yang tenang, menyadari bahwa restorannya telah menjadi bagian dari perjalanan hidup banyak keluarga.
Dalam setiap perpindahan dan renovasi, Om Irhandi selalu berpegang pada prinsip menjaga kualitas, melayani dengan rendah hati, dan mempertahankan kebersihan. Baginya, bisnis ini pada akhirnya adalah soal pelayanan—dan pelayanan tidak memberi banyak ruang bagi kesombongan.
Di Boulevard Raya, di antara jaringan restoran besar dan tempat-tempat makan yang datang dan pergi mengikuti tren, Santai Malam 1001 tetap berdiri. Om Irhandi masih makan di sana beberapa kali dalam seminggu, sambil berseloroh bahwa kini ia membatasi diri hanya makan setengah porsi. Menu yang sama tidak pernah membuatnya bosan, dan mungkin itulah ukuran paling sederhana dari keyakinannya. Di tengah begitu banyak pilihan, restoran seafood yang ia rintis tetap bertahan.
Lingkungan di sekitarnya telah berubah sepenuhnya. Lahan kosong telah berganti menjadi mal, lalu lintas yang padat, dan deretan tempat makan dari satu ujung Kelapa Gading ke ujung lainnya. Santai Malam 1001 bukan lagi sekadar tenda yang menahan angin. Namun, lebih dari tiga dekade sejak tiang-tiang besi pertama ditancapkan di tanah kosong itu, satu keyakinan yang melandasi namanya tetap sama: bahwa bahkan di antara seribu hidangan sekalipun, hidangan mereka akan tetap tampil beda.