Sang Insinyur di Dapur

Kadang-kadang, minat seseorang terlalu luas untuk digambarkan hanya dalam satu kata. Mereka tidak bisa didefinisikan lewat satu profesi atau satu bidang pekerjaan saja, melainkan oleh rasa ingin tahu tanpa batas yang membawa mereka dari satu hal ke hal lainnya. Yongki Hotanto adalah salah satu contoh nyata—seorang pria dengan keluasan intelektual dan spiritual yang membuatnya terasa karismatik.

Pendiri Bakmi Gading Permai (BGP) ini adalah seorang pengusaha restoran, insinyur, fotografer, sekaligus pembelajar di bidang kesehatan dan umur panjang (longevity). Obrolan tentang bakmi bisa dengan cepat bergeser menjadi diskusi tentang termodinamika, nutrisi, hingga filosofi belajar seumur hidup. Sebagai mantan mahasiswa teknik yang memiliki pengalaman bertahun-tahun di industri restoran Australia, Om Yongki menyatukan dua dunia yang tampak berbeda. Di BGP, ilmu tekniknya berjalan beriringan dengan pemahamannya tentang pelayanan (hospitality). Hasilnya bukan sekadar restoran yang menyajikan semangkuk mi khas Tanjung Pandan, melainkan sebuah ruang yang mencerminkan isi kepala sang pendiri.

Menu andalan BGP adalah bakmi klasik Ujung Pandang, gaya bakmi yang dikenal dengan bumbunya yang agak manis, tekstur mi yang kenyal, dan topping daging panggang yang melimpah. Tekstur mi harus selalu terjaga, daging panggangnya harus diolah dengan benar, dan setiap elemen harus tetap konsisten.

Namun, bagi Om Yongki, konsistensi bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Hal itu menuntut perhatian yang terus-menerus.

“Istilahnya kita learning by doing. Jadi, banyak orang yang menjalankan bisnis, udah jalan, udah enak, udah lose control. Jadi kita harus QC,” ujarnya, sambil membuat gerakan kecil seolah-olah menggarisbawahi pentingnya quality control.

Quality control (pengendalian mutu) pun menjadi salah satu tanggung jawab pribadinya. Ia rutin mencicipi masakan, mengamati, dan mendengarkan masukan dari pelanggan—bahkan ketika ia tidak sependapat dengan mereka.

“Saya tetap terima. Walaupun saya tahu customer-nya tidak benar,” katanya. “Yang penting kita di restoran ini kita harus menerima semua input.”

Keterbukaan itulah yang mendasari cara Om Yongki menjalankan sebuah restoran. Alih-alih melihat BGP sebagai sesuatu yang sudah selesai, ia menganggapnya sebagai sesuatu yang selalu bisa dikembangkan. Latar belakang engineering yang dimilikinya sangat terlihat di dapur, tempat ia menerapkan ketelitian yang sama seperti saat ia merintis karier sebelumnya.

Saat mengajak berkeliling restoran, Om Yongki dengan bangga menjelaskan sistem yang ia rancang sendiri untuk menjaga kenyamanan lingkungan kerja. Ia meluangkan waktu cukup lama untuk mempelajari aliran udara, kontrol suhu, dan ventilasi agar dapur tetap sejuk, bahkan saat cuaca Jakarta sedang panas-panasnya.

Bagi Om Yongki, ini bukan sekadar menciptakan lingkungan yang menyenangkan. Dapur yang nyaman membuat para kokinya bisa bekerja lebih baik, menjaga konsistensi, dan menyajikan makanan yang lebih lezat. Ia mendemonstrasikan kekuatan aliran udara tersebut dengan memegang selembar tisu di dekat jendela servis antara dapur dan area makan. Tisu itu bergerak lembut, menunjukkan bahwa udara sejuk secara aktif dialirkan ke seluruh ruangan.

Perhatiannya terhadap detail tidak berhenti di dapur saja. Di area rooftop lantai atas, ia menunjukkan generator yang dipasang untuk memastikan BGP tetap beroperasi jika sewaktu-waktu terjadi mati listrik. Ini adalah contoh lain dari cara berpikirnya yang visioner: bersiap menghadapi masalah sebelum masalah itu terjadi.

Di luar urusan restoran, Om Yongki juga menaruh perhatian besar terhadap kesehatan dan umur panjang. Ia menggambarkan dirinya bukan sebagai ahli, melainkan sebagai seorang pengamat kesehatan—seseorang yang terus membaca dan mempelajari bagaimana manusia bisa menjaga kesehatan mereka seiring bertambahnya usia.

Minat ini dimulai setelah ia mengetahui masalah kesehatannya sendiri di usia muda, ketika hasil medical check-up menunjukkan kadar kolesterolnya berada di atas 300. Pengalaman itu mengubah caranya memandang makanan dan gaya hidup. Kini, ia tidak hanya memperhatikan apa yang ia makan, tetapi juga apa yang disajikan BGP kepada pelanggannya.

Ia percaya bahwa bakmi tetap bisa dinikmati secara bertanggung jawab. “Memang namanya bakmi is not the healthiest. But if you consume moderately and wisely, it will be healthy for you,” dia menjelaskan.

Masa depan BGP kini berkaitan erat dengan putranya, Kevin, yang mulai terlibat aktif dalam bisnis ini. Setelah bekerja dan menuntut ilmu di luar negeri, Kevin kembali ke Jakarta dan bergabung dengan restoran keluarga. Memperhatikan cara kerja sang ayah mengajarkan bahwa menjalankan bisnis bukan hanya tentang mengambil keputusan untuk diri sendiri.

“One of the things I learned itu adalah bagaimana keputusan terbaik harus yang terbaik buat semuanya,” kata Kevin.

Hal yang paling dikagumi Kevin dari ayahnya adalah kemampuannya mengambil keputusan sulit dengan penuh percaya diri. Om Yongki mungkin terlihat berani atau bahkan nekat, tetapi Kevin percaya bahwa pilihan-pilihan itu lahir dari pertimbangan yang matang.

“Walaupun seakan-akan kayaknya nekat, tapi kita yakin bahwa itu keputusan terbaik dari judgement dia.”

Om Yongki sering mengulang sebuah pepatah Tiongkok yang telah menjadi filosofi hidupnya: “Huo tao lao, xue tao lao”—hidup sampai tua, belajar sampai tua.



Ungkapan itu merangkum banyak hal tentang dirinya: seorang pemilik restoran yang masih mempelajari prinsip-prinsip teknik, seorang pencinta kesehatan yang terus meneliti tubuh manusia, dan seorang ayah yang sedang mempersiapkan putranya untuk melanjutkan tongkat estafet. Di dunia Om Yongki, hidup adalah ruang kelas tanpa batas, dengan pelajaran yang siap ditemukan dalam setiap pengalaman.

Pada akhirnya, pencapaian terbesar Om Yongki mungkin bukan sekadar mangkuk-mangkuk bakmi yang disajikan di BGP, melainkan budaya rasa ingin tahu dan kepedulian yang dibangun di sekitarnya. Restoran ini berdiri sebagai cerminan dari seorang pria yang percaya bahwa bertambahnya usia bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan sebuah awal dari keinginan yang lebih dalam untuk terus mencari tahu.


Discover Other Stories