Kalau melihat cara Tante Susan bergerak di area makan Bakmi Danau Toba, tidak ada yang bakal mengira kalau tahun ini usianya genap 70 tahun. Langkahnya begitu lincah mondar-mandir di antara area makan dan dapur demi menyapa pelanggan setia, mengecek rebusan kuah di bagian depan toko, hingga mengobrol santai dengan para pengunjung bak kawan lama—yang memang, dalam banyak kasus, mereka adalah teman-teman dekatnya.
Di saat banyak orang seusianya memilih mulai bersantai, pemilik Bakmi Danau Toba ini sama sekali belum terpikir untuk pensiun.
"Bakmi terus sampai waktunya," ujarnya sambil tersenyum lebar.
Pernyataan itu terlontar bukan karena dorongan ego, apalagi tuntutan keadaan. Ketiga anak Tante Susan sudah lama hidup mandiri dan menetap di Jakarta, Banjarmasin, serta Bali. Di luar urusan rumah makan, hari-harinya diisi dengan jalan-jalan berburu kuliner enak di sekitar lingkungan rumah atau ikut line dancing bersama teman-temannya. Ia sebenarnya bisa saja bersantai jika mau—ia hanya memilih tidak melakukannya.
"Kalau dagang ini saya seneng," tuturnya. "Happy sama temen-temen."
Bagi Tante Susan, sekat antara pelanggan dan sahabat sudah lama lebur. Pengunjung yang baru pertama kali mampir untuk makan siang akan disambut dengan kehangatan sama seperti para pelanggan tetap lintas generasi. Ada keterbukaan yang terasa begitu alami dari caranya mencairkan suasana di rumah makan, membuat kunjungan singkat untuk semangkuk mi terasa sehangat momen berkumpul bersama keluarga di akhir pekan.
Keceriaan yang tulus itu terasa di setiap sudut ruangan rumah makannya. Sebagai salah satu destinasi kuliner paling senior di Kelapa Gading, Bakmi Danau Toba konsisten menyajikan kelezatan khas Pematang Siantar yang bersahaja sejak 1984. Berawal dari nama Mie Keriting Siantar, usahanya dibangun dari resep warisan orang tua Tante Susan—cita rasa autentik yang tetap menjadi jangkar menu utama mereka hingga lebih dari empat dekade kemudian.
Ubin bergaya vintage dengan nuansa biru, hijau, hitam, dan putih menghiasi dinding, sementara kipas angin gantung menjaga ruang makan terbuka ini tetap sejuk. Dapur dengan konsep terbuka langsung terlihat di bagian depan toko, berdampingan dengan patung maneki-neko dan patung Buddha kecil di dekat kasir, menghadirkan atmosfer yang begitu personal dan hangat.
Sebagian besar menu di sini pun tak tersentuh perubahan selama bertahun-tahun. Hampir semua bahan diolah sendiri di dapur, mulai mi keriting yang kenyal hingga aneka topping gurih yang melengkapi setiap mangkuk Mie Pangsit. Daging cincang kecap yang manis-gurih, daging merah (char siu), hingga sajian mingguan dibuat secara mandiri. Hari Kamis dan Minggu selalu menjadi pagi tersibuk, ketika para pelanggan berdatangan lebih awal demi Lontong Sayur Medan dan Nasi Uduk Medan: piring-piring dengan porsi royal berisi rendang, teri goreng, kentang, telur, serta lauk-pauk yang berlimpah.
Namun, Tante Susan masih ingat betul masa-masa ketika semua ini belum ada, saat Kelapa Gading masih didominasi padang rumput dan jalanan yang sepi. Pada masa-masa awal itu, ia mengurus hampir seluruh operasional sendirian dan hanya dibantu oleh satu orang karyawan. Ia melakoni segala peran, dari meracik bumbu hingga mencuci piring. Respons masyarakat ternyata sangat cepat dan luar biasa ramai. Sabtu dan Minggu berubah menjadi masa-masa sibuk, ketika dapur bisa mengolah hingga 80 kilogram mi dalam sehari—keramaian luar biasa yang akhirnya meyakinkan sang suami untuk melepas pekerjaannya demi membantu mengelola rumah makan secara penuh.
Kerja keras dan ketekunan itu menjadi fondasi awal dari warisan keluarga mereka. Walaupun kini kerabatnya mengoperasikan cabang lain di Sunter, Tanjung Duren, dan Tomang, kedai asli di Kelapa Gading ini tetap menjadi jantung utama dari usaha mereka. Meski kini deretan staf dapur yang mahir sudah mengurus proses memasak sehari-hari, Tante Susan tidak mau benar-benar lepas tangan. Gaya kepemimpinannya berpatokan pada pengawasan langsung yang tekun ketimbang kontrol dari jauh—sebuah keyakinan bahwa roh dari sebuah rumah makan akan hilang begitu pemiliknya berhenti peduli.
Kehadiran dan perhatiannya yang konsisten itu menjelaskan mengapa daftar pelanggannya tidak terasa seperti daftar pembeli biasa, melainkan lebih menyerupai silsilah keluarga. Ia menyaksikan anak-anak gadis yang pertama kali datang ke kedainya pada pertengahan 1980-an tumbuh dewasa, menikah, hingga akhirnya membawa cucu-cucu mereka kembali ke meja yang sama. Selama empat puluh tahun, batasan antara penjual dan pembeli meluntur begitu saja. Ia pun menyikapi masukan pelanggan dengan kelapangan dada yang sama besarnya, menganggap masukan di hari yang kurang sempurna sebagai perbincangan antarteman dekat yang saling menginginkan yang terbaik.
"Kalau orang komplain, saya lebih suka. 'Oh ini kurang nih,' oke, terima kasih."
Pada hakikatnya, Tante Susan menjalankan pekerjaan dan masa tuanya dengan sudut pandang yang sangat bersahaja. Ia melakoni usahanya dengan kesabaran mendalam, memegang teguh prinsip bahwa kebahagiaan datang dari tubuh yang terus aktif bergerak dan hubungan antarmanusia yang terus dijaga.
Dan mungkin itulah alasan bahwa kata pensiun tidak pernah benar-benar menarik baginya.
Kesejahteraan sebuah usaha sering kali diukur dari seberapa besar ekspansinya, berapa banyak penghargaan yang diraih, atau seberapa lama ia bertahan. Tante Susan tampaknya mengukur kesuksesan dengan cara yang berbeda: dari wajah-wajah akrab yang selalu kembali setiap minggu, serta dari obrolan hangat yang mengalir lebih lama daripada durasi makan siang itu sendiri.
Empat puluh dua tahun setelah pertama kali membuka Bakmi Danau Toba, ia bangga telah membangun sebuah tempat yang selalu membuatnya bersemangat untuk kembali setiap pagi.
Dan di antara kehangatan dapur dan meja kasir, Tante Susan masih berada tepat di tempat yang paling ia cintai.