Ketika Cita Rasa Sunda Menemukan Rumah di Jakarta

Pusat kebudayaan Sunda hanya berjarak sekitar 30 menit perjalanan kereta cepat dari Jakarta. Namun, banyak warga akan sepakat bahwa ada kelangkaan makanan Sunda yang autentik di ibu kota. Untungnya, salah satu sudut di Kelapa Gading sudah lama menolak untuk menerima kekurangan itu sebagai takdir.

Di Jalan Boulevard Barat Raya, Ayam Goreng Serundeng Bu Heti menempati lanskap Jakarta yang sudah sangat akrab: sebuah ruko fungsional dengan etalase kaca, lantai keramik, dan aliran pelanggan tetap yang datang sambil lalu. Ruangannya terasa hidup, dengan pelanggan melangkah ke etalase untuk memilih sendiri lauk dan sayuran yang telah dibumbui dengan kaya rasa.

Di balik meja saji, berdiri Hety Ruswati, perempuan asli Bandung yang tinggal di Kelapa Gading sejak 1985. Ia menceritakan kisah hidupnya sebagaimana ia memasak—dengan senyum dan kilau mata yang menunjukkan bahwa ia menikmati mengenang masa lalu sama besar dengan kegembiraannya menyuapi orang lain. 

Perjalanan kulinernya di Kelapa Gading dimulai pada pertengahan 1990-an, saat kawasan ini masih jauh dari wajahnya yang sekarang. “Waktu saya baru masuk dan buka restoran Pondok Parahyangan, itu masih sepi,” ia mengenang. Di depan restoran pertamanya, terbentang sawah dan lahan kosong. Ia termasuk segelintir pelaku usaha di area itu, dan makanan Sunda nyaris belum dikenal. “Melihat peluang di Kelapa Gading ini, kayaknya belum ada makanan Sunda yang asli dari sana,” ujarnya.

Menu awal di Pondok Parahyangan terbilang beragam, penuh dengan hidangan yang ia kenal dari kampung halaman. Seiring waktu, satu hidangan perlahan menonjol di atas yang lain—berakar pada tradisi keluarga dan praktik yang dijalani sehari-hari. “Resep ayam goreng ini, itu resep dari keluarga, turun-menurun resep,” Bu Hety menjelaskan. Ayam goreng serundeng tidak pernah dirancang untuk menjadi menu viral. Itulah masakan keluarga mereka saat berkumpul, yang disiapkan dengan ketelatenan dan keakraban.

Di Ayam Goreng Serundeng Bu Heti, ayam goreng khasnya datang dengan taburan serundeng kelapa yang harum, membawa aroma rempah yang matang perlahan. Bu Hety mengakui ada sedikit penyesuaian untuk lidah Jakarta, tapi inti rasanya tetap miliknya. 

Lalu, ada sambal-sambalnya yang layak mendapat perhatian khusus. Setiap hari, Bu Hety membuat empat jenis sambal, masing-masing dengan karakter yang jelas. Sambal korek terasa tajam dan langsung; sambal terasi memberi kedalaman rasa yang cocok dengan berbagai lauk; sambal kecombrang menghadirkan aroma yang sangat Sunda; sambal ijo diracik dari cabai rawit hijau, bukan sekadar pedas mentah. “Itu nanti customer bisa pilih sendiri mana yang dia suka,” jelasnya. Pilihan ini memberi ruang bagi selera masing-masing, dan banyak yang kembali karena sambal tertentu yang mereka ingat. Bagian dapur ini dijaga ketat olehnya. “Pasti harus membuat sambal yang nggak bisa dipegang sama yang lain. Saya sendiri yang bikin sambalnya.”

Hari-harinya dimulai sebelum subuh. Ia bangun sekitar pukul setengah lima pagi, menyiapkan sambal, mengawasi ayam, dan mengelola tiga wajan besar yang masing-masing bisa menampung sekitar 30 ekor ayam. Saat jam makan siang, ia masih ada di sana—mengecek meja dan menyapa tamu. Pekerjaan berlanjut hingga sore dengan berbelanja dan mempersiapkan diri untuk hari berikutnya. “Saya lebih senang terjun langsung di dapur,” katanya, lalu menambahkan bahwa ia juga menikmati berbincang dengan pelanggan. Banyak di antara mereka yang tumbuh besar bersama masakannya. Ada yang dulu datang bersama orang tua, lalu kembali membawa anak, dan kini hadir bersama cucu. 

Sempat ada jeda selama pandemi, yang diperparah oleh proyek konstruksi yang menyulitkan orang untuk parkir. Ketika ia kembali membuka usaha dengan nama Ayam Goreng Serundeng Bu Heti pada 2023, fokusnya makin tajam. Menu dipadatkan dan layanan dipercepat. Sambal, lalapan, dan nasi isi ulang gratis menciptakan kehangatan di masa ketika banyak orang masih ragu untuk makan di luar. Bu Hety menanggung biaya lewat perhitungan matang dan subsidi silang, tanpa mengorbankan kualitas bahan. Mutu beras dan rempah segar sangatlah penting. “Makan yang penting tuh enak, nikmat makannya,” katanya, memandang makanan sebagai pengalaman, bukan sekadar transaksi.

Di lantai atas ruko, sisi lain hidupnya berjalan. Di sana, Bu Hety mengelola butik yang menjual busana batik rancangan sendiri. Ruang itu juga berfungsi sebagai kantor salah satu anaknya yang merintis usaha skincare. Susunannya terasa seperti perpanjangan dari dorongan yang sama yang dulu membawanya dari dunia perbankan ke dapur. “Dulu saya awalnya bekerja di bank,” katanya, mengenang masa kerjanya di bank swasta sebelum naluri kuliner mengambil alih. Di gedung ini, tampaknya semangat wirausaha mengalir lintas generasi. 

Saat ditanya soal tantangan, Bu Hety menanggapinya dengan ringan. Masukan datang, penyesuaian dilakukan, dan tidak ada ruang untuk amarah. “Saya selalu happy-happy aja,” katanya. Baginya, suasana hati menentukan hasil. Perasaan yang baik melahirkan masakan yang lebih baik. Ia mengukur keberhasilan dari piring yang kosong dan senyum di wajah pelanggan saat pulang dari restonya. “Saya senang melihat customer makan di restoran saya ini lahap,” katanya.



Harapannya tetap luas, tapi berpijak. Ia ingin Ayam Goreng Serundeng Bu Hety melangkah lebih jauh dan memberi makan lebih banyak orang dari berbagai usia dan latar belakang. Ambisi itu tidak terdengar berlebihan; lebih seperti kelanjutan dari apa yang sudah ia lakukan setiap pagi sebelum matahari terbit. Di kota yang masih terus mencari rasa Sunda yang konsisten, Bu Hety menawarkan sesuatu yang mantap dan personal. 

Discover Other Stories