Keteguhan dalam Sehelai Mi

Deru lalu lintas di sepanjang Jalan Boulevard Raya nyaris tak pernah berhenti. Arus mobil dan motor seolah-olah tak ada habisnya memadati salah satu jalur tersibuk di Kelapa Gading ini. Namun, cukup melangkah satu blok ke Jl. Gading Elok Raya Utara, suasananya berubah lebih tenang. Di sanalah berdiri Mie Garing Bethanie, yang menempati sebuah bangunan tersendiri. Ruangannya bersih dan terang, langit-langitnya tinggi, serta jendela kacanya besar berwarna dari lantai hingga plafon, yang membiarkan cahaya masuk tanpa membuat ruangan terasa panas. Kesan lapang dan lega terasa kontras dengan deretan ruko padat serta ketatnya persaingan kuliner yang identik dengan kawasan ini.


Di salah satu meja panjang, tampak satu keluarga yang terdiri atas tiga generasi duduk menunduk menikmati mi mereka yang mengepul. Mereka bercerita bagaimana mereka sudah menjadi pelanggan sejak masa orang tua Ronald Adrianto masih turun langsung di dapur. Kini, giliran Ronald yang mondar-mandir antara kasir dan area dapur. Ia menyapa pelanggan dengan ramah, memasukkan pesanan ke sistem, lalu sesekali melangkah ke belakang untuk mengecek panci kuah. Ia hadir, sigap, dan jelas bangga melanjutkan apa yang telah dirintis oleh kedua orang tuanya.


Didirikan pada tanggal cantik 8 Agustus 1988, kedai ini awalnya bernama Bakmie Bethanie. Kata “garing” belum ada saat itu. Seorang pelangganlah yang pertama kali menyebut bahwa mi di sini memiliki tekstur yang “garing”—padat, kenyal, dan sedikit liat saat digigit. Dalam bahasa Indonesia, “garing” kerap diartikan sebagai renyah atau kering. Namun, dalam konteks mi, maknanya lebih merujuk pada tekstur: helai-helai mi yang tidak lembek, tetap berbentuk, memberi sedikit perlawanan saat digigit, lalu terasa kenyal. Julukan itu akhirnya diadopsi. Bakmie Bethanie pun bertransformasi menjadi Bakmie Garing Bethanie, nama yang menegaskan ciri khas yang membedakannya dari mi lain yang lebih lembut dan mudah putus.


Adapun nama “Bethanie” memiliki makna spiritual. Ronald menjelaskan bahwa sang mama menyukai nama tersebut karena merupakan nama sebuah taman yang disebutkan dalam Alkitab. “Mama suka sekali dengan nama Bethanie. Itu nama taman di Bible,” ujarnya, merujuk pada iman Kristen yang dianut keluarganya. Namun, keyakinan itu tidak pernah membuat mereka tertutup. Di kota dengan mayoritas pelanggan muslim, keluarga ini memahami bahwa keramahan juga berarti memperhatikan kebutuhan konsumsi. Semua topping menggunakan ayam bersertifikat halal, mulai ayam cincang hingga suikiaw. Bagi Ronald dan keluarganya, keputusan itu bukan hanya langkah praktis, tetapi juga bentuk penghormatan.


Sebelum terjun ke bisnis keluarga, jalan hidup Ronald sempat mengarah ke bidang lain. Ia meraih D-3 Manajemen, bekerja di industri musik, lalu beralih ke dunia asuransi. “Nggak ada kepinginan untuk nerusin usaha Papa Mama,” tuturnya. Titik baliknya datang pada 2007, ketika sang papa meninggal dunia karena sakit jantung. Lantaran ibunya belum terbiasa dengan sistem administrasi dan manajemen modern, tanggung jawab pun jatuh ke pundaknya. “Mau nggak mau, saya harus ngurusin, harus nerusin.”


Mengambil alih bisnis ini ternyata bukan sekadar menggantikan posisi ayahnya, tetapi juga memahami proses pembuatan mi secara menyeluruh. Saat berbicara tentang mi, nada Ronald berubah menjadi lebih teknis. Ia menjelaskan bagaimana adonan dibuat sendiri dari tepung pilihan, tanpa menggunakan air abu seperti yang umum dipakai di tempat lain.


Hal-hal kecil pun berpengaruh, misalnya posisi pisau pada mesin pencetak mi menentukan ketebalan setiap helai. Selisih beberapa milimeter saja bisa mengubah sensasi di mulut, dan pelanggan pasti menyadarinya. Para pelanggan setia cepat tanggap terhadap perubahan sekecil apa pun. Itulah sebabnya Ronald menekankan konsistensi di setiap adonan dan sesekali turun langsung untuk memastikan proses berjalan sesuai dengan standar.


Meski sibuk dengan urusan manajemen, Ronald tetap memilih hadir di ruang makan. Ia menghargai percakapan langsung dengan pelanggan. “Ketika ada owner di situ, terus bisa ngobrol dengan customer-nya, kita bisa tahu kekurangan kita sampai mana.” Umpan balik yang didengar langsung di meja makan terasa lebih bermakna dibanding sekadar ulasan daring. Ketika ada keluhan, ia memandangnya sebagai bagian dari dinamika usaha: diperbaiki bila perlu, dipertahankan bila memang prinsipnya demikian.


Namun, loyalitas yang menopang Mie Garing Bethanie tidak terbentuk dalam semalam. Pada tahun-tahun awal, orang tua Ronald pernah hanya menjual dua atau tiga mangkuk sehari. Karena berdiri di seberang sebuah sekolah, kabar tentang kedai ini pun menyebar perlahan dari mulut ke mulut di kalangan murid dan keluarga mereka. Seiring waktu berjalan, murid-murid itu tumbuh dewasa, lalu kembali bersama pasangan dan anak-anak mereka.


Ketika ditanya tentang pelajaran terpenting yang ia peroleh dari menyaksikan orang tuanya membangun dan menjalankan usaha ini, Ronald berbicara tentang karakter. “Persistensi itu yang perlu dicontoh,” katanya. Ia mengingat bagaimana orang tuanya tetap membuka pintu meski penjualan minim, tetap menjaga kualitas saat persaingan makin ketat, dan terus melangkah melewati sakit ataupun kehilangan. Dari merekalah ia belajar bahwa daya tahan lebih penting daripada kecepatan dan bahwa hadir setiap hari memiliki arti tersendiri.




Di bawah langit-langit tinggi ruang makan itu, cahaya lembut menembus jendela kaca berwarna saat pintu kembali terbuka. Ronald menoleh dari balik kasir, menyapa seorang pelanggan tetap, menanyakan kabar keluarganya, lalu beralih ke pesanan berikutnya. Mangkuk-mangkuk mi garing terus keluar dari dapur, dengan karakter yang tak banyak berubah selama hampir empat dekade. Dalam interaksi sederhana antara pemilik dan pelanggan—keakraban dan kepercayaan—pelajaran tentang persistensi itu terus hidup.


Discover Other Stories