Jiwa di Balik Kwetiau Legendaris

Setiap pagi, sebelum keramaian pelanggan makan siang memenuhi deretan ruko di Kelapa Gading, Om Rudy berdiri di dalam kedai sederhana Kwetiau Hayam Wuruk 61 dan memikirkan tempat segalanya bermula. Kisah keluarganya sederhana, tetapi jalan yang mereka pilih sama sekali tidak mudah.

Kisah itu dimulai pada awal 1970-an, di sebidang tanah terbuka di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta Barat, tempat berdirinya sebuah bengkel sepeda motor yang tutup saat senja dan menyisakan ruang yang cukup untuk membuka dapur keluarga.

“Dulu itu siang adalah bengkel motor, lalu sore dia tutup,” kata Om Rudy, menjelaskan bahwa ruang tersebut diubah setiap sore menjadi tenda yang menyajikan kwetiau gaya Pontianak. Penyiapannya terdengar sederhana, tetapi siapa pun yang pernah bekerja di tenda pinggir jalan tahu bahwa hari demi hari datang membawa tantangan tersendiri. Mereka harus siap menghadapi hujan, angin, dan semua masalah yang datang saat memasak di luar ruangan. Mereka mengikat terpal, mengamankan tiang-tiang, dan berharap pelanggan tidak basah kuyup saat sedang makan.

Bisnis ini dimulai oleh paman dan ibunya, dua bersaudara yang meninggalkan kampung halaman mereka di Pontianak untuk mencari sesuatu yang bisa mereka bangun bersama. “Paman itu punya keahlian bisa menggoreng,” ujar Om Rudy. Pamannya mengurus bagian memasak, sementara ibunya menangani semua pekerjaan lainnya. Om Rudy mengakui bahwa ia tidak tumbuh dengan cita-cita menjadi seorang juru masak, tetapi kakak laki-lakinya menunjukkan minat yang lebih besar. Komitmen itu mendorong kakaknya untuk berhenti sekolah demi membantu ibu mereka. Itu adalah keputusan krusial bagi seseorang yang masih sangat muda, tetapi juga menjadi penentu sikap keluarga terhadap pekerjaan: ketika Anda berkomitmen, lakukanlah sepenuhnya.

Sepanjang 1970-an, tenda kecil di Hayam Wuruk itu terus berjalan. Pelanggan datang sepulang kerja, tertarik pada hidangan sederhana namun berkesan ala Pontianak yang ditawarkan. Kwetiau siram awalnya hanya mi goreng biasa sebelum disiram dengan adonan sagu yang membuat kuahnya kental dan mengilap—paling enak disantap selagi masih panas mengepul. Ada juga spesialisasi daerah, kwetiau bun, yang berada di antara jenis “sepupunya”, goreng dan siram, dengan kuah yang cukup untuk melapisi mi tanpa menenggelamkannya. Kemudian, ada kwetiau yam—spesialisasi Pontianak lainnya yang mi-nya direbus alih-alih digoreng dan dicampur dengan cuka untuk profil rasa asam-gurih yang lembut.

Hidangan-hidangan itu membawa mereka jauh, tetapi tidak sejauh langkah mereka berikutnya. Ketika Kelapa Gading mulai terbentuk, Om Rudy ingat pernah berkendara dari Jakarta Barat hanya untuk melihat-lihat kawasan yang saat itu lebih berupa rawa daripada permukiman. Dia mengingat bahwa saat itu pembangunan perkotaan berhenti di ruko yang akhirnya akan menjadi rumah bagi kedai makan tersebut. Apa yang ada hari ini—jalan raya yang sibuk, bundaran yang macet, dan ruko yang ramai—saat itu tak terbayangkan. Tanah itu berada satu meter di bawah permukaan jalan dengan pemandangan sawah. Dunia di sekitar mereka berubah, tetapi pandangan mereka tetap sederhana.

Keluarga itu percaya pada potensi lingkungan tersebut dan membuka cabang di Kelapa Gading, sementara lokasi Hayam Wuruk yang asli diserahkan kepada kerabat lainnya. Om Rudy mengatakan bahwa meskipun mereka memulai dari awal di area baru, menemukan pelanggan bukanlah sebuah tantangan—banyak pelanggan setia mereka yang bersedia berkendara lebih jauh ke utara.

Ia menerima keberuntungan itu dengan rasa syukur yang tenang. Istrinya, Tante Julia, menggambarkannya sebagai pribadi yang mandiri dan sangat supel, tipe orang yang bisa duduk dan mengobrol dengan siapa saja. Tidak mengherankan jika generasi demi generasi pelanggan terus berdatangan—beberapa di antaranya sejak masih kecil ikut bersama orang tua mereka. Om Rudy masih mengingat wajah dan kisah mereka, dan mereka pun masih duduk bersama untuk menikmati nostalgia yang sama.

Rasa kesinambungan itu juga meluas ke makanannya. Bahan dan resep tidak banyak berubah selama beberapa dekade, dan itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi Om Rudy. “Resepnya tetap kita pertahankan. Konsumen lama masih bisa terima sampai hari ini,” katanya.

Sementara kakak laki-lakinya menangani pengetahuan memasak, Om Rudy mengakui bahwa panggilannya lebih ke sisi manajerial bisnis. “Passion saya enggak di situ,” katanya dengan lugas. Ia membeli bahan, memantau operasional, dan menjaga agar semuanya berjalan lancar.

Setelah setengah abad bekerja berdampingan, pertanyaan pun muncul secara alami: bagaimana sebuah keluarga tetap utuh melewati semua itu? Bagi Om Rudy, sebuah kedai makan yang bertahan lama bertumpu pada keterampilan, ketekunan, dan kemampuan untuk mempertahankan hal-hal yang sudah terbukti berhasil. Sama pentingnya, dia menambahkan, adalah saling percaya dan komunikasi di antara saudara kandung dan antargenerasi.



Dia tidak tahu berapa generasi lagi yang akan mengambil alih usaha ini atau akan seperti apa kedai itu pada tahun-tahun mendatang. Dia hanya berharap pengelola berikutnya akan menjaga semangat itu tetap utuh. Untuk saat ini, ia berfokus pada hal yang bisa ia kendalikan: mempersiapkan anggota keluarga yang lebih muda, melatih staf yang cakap, dan memastikan ritme kerja tidak pernah berhenti.

“Kita usaha…tetap kita usaha,” katanya—sebuah kalimat sederhana di dunia yang jarang sekali sesederhana itu.

Discover Other Stories