Berpesta dengan Tuan Rumah Kelapa Gading

Saat melangkah melewati ambang pintu restoran Golden Leaf di Kelapa Gading, dunia luar seolah-olah meluruh. Di tempat ini, sebuah semesta yang unik dan riuh menyeruak. Desain interiornya menolak tunduk pada segala bentuk kehalusan atau gaya minimalis. Sebaliknya, tempat ini merangkul semangat maksimalis yang lebih terasa seperti mimpi demam akan sebuah perayaan daripada ruang makan pada umumnya. Para tamu berjalan di atas karpet merah. Lampu strobo duduk tidak aktif, menunggu isyarat untuk sesi karaoke. Lemari pajangan penuh sesak dengan botol minuman keras, berebut tempat dengan plakat dan hadiah-hadiah pemberian para perwira tinggi militer.

Meski berada di dalam kompleks pertokoan tua yang kilaunya sudah lama memudar, restoran Golden Leaf sama sekali bukan tempat yang redup. Ruangannya sangat luas dan terang benderang. Berpusat pada aula makan utama yang besar dengan lorong yang bermuara ke deretan ruang perjamuan berlampu gantung—ruang-ruang yang memang dirancang untuk ulang tahun, pernikahan, atau acara apa pun yang menuntut perayaan tanpa batas.

Kakofoni visual ini memiliki tujuan khusus: ia memberi sinyal bahwa ini adalah tempat yang penuh volume, penuh suara, dan penuh kehidupan yang murni. Dan di pusat energi yang berputar ini, duduklah sang pemilik yang sama semaraknya, Simon Teh.

Saat percakapan dimulai, Om Simon tampak pendiam. Ia duduk dengan postur tubuh yang kaku. Namun, kekakuan ini hanya sesaat. Ketika ia mulai menuturkan sejarah kerajaannya, bahunya rileks, tangannya mulai bergerak aktif, dan karisma seorang pria yang telah menghabiskan puluhan tahun menjamu ribuan tamu pun muncul ke permukaan. Ia adalah arsitek dari tontonan ini, sosok larger-than-life yang sangat pas berada di dalam dinding-dinding yang ia bangun.

Perjalanan Om Simon menuju benteng kuliner ini tidak dimulai dengan sendok sayur, melainkan dengan kulit dan karet. Berasal dari Medan, kota yang terkenal dengan kulinernya yang khas dan kaya rasa, Om Simon menghabiskan waktu bertahun-tahun di industri alas kaki. Ia memiliki toko dan mengelola pabrik di Jakarta, namun kehidupan industri menuntut bayaran mahal. Ia mengenang suasana lantai pabrik dengan meringis, khususnya bau bahan kimia yang dibutuhkan untuk memproses sepatu. Ia meninggalkan bisnis itu ketika mengalami sesak napas, dan transisi dari bau asap pabrik yang menyengat menjadi uap aromatik dapur terjadi setelah kerusuhan 1998. Itu adalah masa yang penuh gejolak bagi Indonesia, dan di tengah ketidakpastian itu, Om Simon mencari sesuatu yang bisa bertahan.

Ia membuka restoran dan memilih nama Golden Leaf dengan niat yang sengaja. “Kalau Golden kan udah tahu, itu emas. Emas pasti nggak bisa luntur, nggak bisa berubah.” Kata “Leaf” (daun), ia jelaskan, melambangkan pertumbuhan dan vitalitas; sebuah pengingat bahwa bahkan di masa-masa sulit, sesuatu yang baru dapat berakar dan berkembang.



Restoran pertamanya dibuka di Muara Karang pada 1999, sebuah awal sederhana yang dengan cepat mendapat tempat di hati pelanggan. Lokasi itu masuk akal: kawasan padat yang terkenal dengan kuliner, tempat cerita dari mulut ke mulut menyebar dengan cepat. Namun, bahkan saat membangun momentum di sana, Om Simon sudah mengincar Kelapa Gading—sebuah komunitas yang memiliki selera, ambisi, dan tempo yang selaras dengannya.

Peralihan ke dunia makanan terasa alami. Om Simon hobi makan, namun yang lebih penting adalah istrinya menjadi tulang punggung teknis bagi ambisi ini. Sang istri menghabiskan lebih dari dua dekade mengajar memasak, memberi pasangan ini fondasi yang kuat dalam teknik dan rasa. Namun, meski dengan keahlian itu, mereka tahu visi mereka membutuhkan jangkauan yang lebih luas. Untuk membangun menu dengan kedalaman internasional, mereka mendatangkan koki asing—spesialis yang dapat menyumbangkan hidangan dan metode yang memperluas repertoar Golden Leaf jauh melampaui pakem standar masakan Tionghoa-Indonesia.

Menu mereka mencerminkan skala ambisi Om Simon. Meskipun sebagian besar pengunjung secara alami tertarik pada kelompok hidangan favorit yang familier, ragam pilihannya memastikan setiap kunjungan akan terasa berbeda. Om Simon bersikeras pada identitas kuliner Hong Kong, gaya yang ia anggap sebagai jembatan internasional, yang ramah bagi pengunjung dari latar belakang apa pun. “Semua lapisan biar cocok. Orang Korea, orang China, orang Jepang, semua oke,” katanya menjelaskan daya tarik masakan tersebut.

Ia sangat teliti soal konsistensi. Rempah-rempah lokal, menurut pandangannya, kurang memiliki “tendangan” dan kestabilan yang diperlukan untuk standarnya yang tinggi. Untuk mengatasi hal ini, ia mengimpor bahan dasarnya langsung dari Tiongkok.

Namun, makanan hanyalah kendaraan bagi hasrat sejati Om Simon: keramahtamahan. Baginya, restoran ini ibarat ruang tamu rumahnya. Ketika suasana mendukung, atau ketika tamu memintanya, Om Simon akan mengambil mikrofon. “Mau tak mau, kami turun gunung, nyanyi satu lagu buat dia,” katanya sambil menyeringai.

Tampak jelas bahwa bagi Om Simon, kesuksesan tidak hanya diukur dari buku besar keuangan, tetapi juga dari kegembiraan pelanggannya. Dia ingin mereka “Datang ketawa, pulang tetap ketawa.” Jika ada piring yang kembali dalam keadaan tidak habis, ia menyelidikinya. Jika tamu tidak puas, ia segera mengganti hidangannya. Keinginan untuk menyenangkan dan memuaskan adalah mesin penggerak sejatinya—hal yang membuatnya terus bergerak lama setelah sebagian besar pemilik restoran lain memilih untuk beristirahat.

Pandemi Covid-19 menguji ketangguhan ini. Selama tiga tahun, aula-aula raksasa itu berdiri kosong. Itu adalah pukulan telak bagi bisnis yang dibangun di atas perkumpulan orang banyak, namun Om Simon mengabaikan kenangan itu. Ia tidak memandang penurunan ekonomi atau pandemi global sebagai rintangan yang tak teratasi. “Semangat ada, maju terus,” renungnya.

Kini, saat ekonomi berfluktuasi, Om Simon tetap tak gentar. Ia memandang sekeliling kerajaannya yang kacau, indah, dan masif itu dengan tatapan puas. Dekorasi yang semrawut itu kini masuk akal. Lampu kelap-kelip dan karpet merah itu bukanlah dekorasi yang berantakan—itu adalah properti untuk pertunjukan malam, ketika Simon Teh memainkan peran utama: memastikan setiap orang yang berjalan melewati pintunya pulang dengan perut kenyang dan hati yang lebih ringan.

Discover Other Stories