Salah satu bentuk akulturasi budaya yang paling bertahan dalam kuliner Indonesia adalah mi ayam: mi berbahan dasar gandum yang diadaptasi dari hidangan khas Tionghoa, dibumbui, lalu diberi topping ayam yang dimasak dengan kecap manis. Mi ayam hanyalah satu dari sekian banyak cara mi diserap ke dalam kehidupan kuliner Indonesia, sekaligus salah satu yang paling digemari.
Versi mi ayam yang paling umum dikenal sangat lekat dengan Jawa Tengah, khususnya Wonogiri. Para penjual mi dari daerah ini telah membawa hidangan tersebut jauh melampaui batas daerah asalnya. Berjalan di hampir setiap kota di Indonesia, tak sulit menemukan gerobak mi ayam khas Wonogiri.
Namun di Kelapa Gading, salah satu penjual mi ayam khas Jawa Tengah yang sudah akrab bagi warga justru bukan berasal dari Wonogiri. Pak Parmin, pemilik Mie Ayam Boy, berasal dari Cilacap, kota lain di Jawa Tengah. Selama lebih dari dua dekade, ia berjualan bersama istrinya, Bu Nenti, dari gerobak berwarna biru di Boulevard Raya.
Pukul 05.30 pagi, Mie Ayam Boy sudah ramai. Pelanggan yang datang lebih awal duduk di bangku-bangku plastik di bawah dua payung besar, sementara pelanggan lain menunggu di dalam mobil.
Di balik gerobak, Pak Parmin mengurus mi dan bumbu, sementara Bu Nenti memastikan pesanan terus berjalan. Setelah bekerja bersama selama lebih dari dua dekade, keduanya seolah sudah tahu apa yang dibutuhkan satu sama lain bahkan sebelum harus meminta.
Pak Parmin lebih banyak bicara, cepat melontarkan lelucon dan selalu punya pendapat. Bu Nenti awalnya lebih pendiam, tetapi selera humornya tak kalah terlihat setelah mengenal mereka lebih jauh. Kisah mereka bermula pada 2001, ketika pasangan ini merantau dari Cilacap ke Jakarta. Setelah sempat bekerja untuk orang lain, Pak Parmin memutuskan untuk mencoba peruntungan sendiri. Ia belajar membuat mi ayam dari sang kakak selama beberapa bulan, lalu memberanikan diri untuk mulai berjualan.
Bagi Pak Parmin, tidak ada istilah mengerjakan sesuatu setengah-setengah. “Kalau setengah-setengah, jebol,” ujarnya sambil tersenyum. Senyuman inilah yang selalu menyambut pelanggan saat mangkuk-mangkuk mi berpindah dari gerobak ke tangan mereka. Namun di balik senyum itu, ada keseriusan dalam setiap hal yang ia kerjakan.
Air yang digunakan untuk merebus mi, misalnya, harus selalu bersih dan langsung diganti begitu menurut Pak Parmin sudah tidak layak. Lama perebusan pun disesuaikan dengan cara penyajiannya. Untuk pesanan bungkus, mi hanya direbus selama beberapa detik agar teksturnya tetap pas saat sampai di rumah. Begitu pula dengan bumbunya, yang disesuaikan dengan pesanan pelanggan, mulai dari mi kering, sedikit basah, hingga berkuah.
Namun, keramaian yang kini sudah menjadi pemandangan biasa di gerobaknya dulu terasa seperti sesuatu yang jauh dari jangkauan. Ketika pertama kali memberanikan diri berjualan sendiri pada 2001, Pak Parmin bahkan tidak tahu apakah akan ada yang berhenti untuk membeli semangkuk mi.
“Cuma laku satu porsi doang sehari,” kenangnya sambil tertawa. Bahkan, ia masih ingat persis siapa yang membeli mangkuk pertama itu.
“Pertama kali orang beli tuh, taksi. Bahkan nomor pintunya saya ingat.”
Setelah 25 tahun, ingatan sedetail itu terdengar absurd. Namun pelanggan pertama itu menandai awal dari sesuatu yang kelak menjadi bagian dari rutinitas pagi warga Kelapa Gading. Satu mangkuk itu kemudian berkembang menjadi sekitar 100 mangkuk pada hari biasa, dan sekitar 200 mangkuk setiap akhir pekan.
Angkanya mungkin sudah berubah jauh sejak saat itu, tetapi cara Pak Parmin menjalankan usahanya tidak banyak berubah. Setiap mangkuk tetap ia perlakukan dengan perhatian yang sama, entah itu mangkuk pertama pagi itu atau yang keseratus.
Ada satu hal lain yang menurut Pak Parmin membuat usaha sekaligus pernikahan mereka dapat bertahan selama ini: kepercayaan. Setelah lebih dari dua dekade bekerja berdampingan, mereka sudah membangun kepercayaan yang membuat keduanya bisa bekerja tanpa banyak bicara. Bu Nenti sudah menjadi bagian dari usaha ini hampir sejak awal, dan keberhasilan Mie Ayam Boy adalah hasil kerja kerasnya sama besarnya dengan Pak Parmin.
Bagi Bu Nenti, pencapaian itu sendiri terasa sederhana. Ia bersyukur bisa bekerja bersama suaminya sekaligus menghidupi keluarga mereka. Anak-anak mereka semua bersekolah di Kelapa Gading, tumbuh di lingkungan yang sama dengan tempat orang tua mereka telah menghabiskan dua setengah dekade terakhir untuk bekerja.
Setelah 25 tahun, rupanya Pak Parmin pun punya ukuran kebahagiaan yang tak jauh berbeda. Ketika ditanya apa yang paling membuatnya senang setelah bertahun-tahun berjualan, ia tidak menyebut jumlah mangkuk yang terjual atau berapa lama ia sudah menjalankan usaha ini.
“Kalau dagangan habis, senang itu.”
Dua puluh lima tahun setelah semangkuk pertama dibeli oleh seorang pengemudi taksi yang mampir, perasaan itu rupanya tidak banyak berubah. Gerobak yang kosong berarti pekerjaan hari itu terbayar dan pelanggan pulang dengan perut kenyang. Besok, Pak Parmin dan Bu Nenti akan kembali dan mengulang semuanya lagi.