Masuk ke Swanie Ice Cream & Pastries rasanya seperti melangkah ke rumah tetangga. Di tengah permukiman tenang di Kelapa Gading, sebuah ruang tamu disulap menjadi kafe ber-AC. Di dalamnya, kulkas-kulkas kaca memamerkan balok-balok es krim warna-warni dengan rasa yang kreatif. Di sinilah pelanggan disambut oleh Om Robert dan Tante Ratna, yang sejak tahun 2000 menjadi pemilik sekaligus pengelola tempat ini.
Om Robert dan Tante Ratna bertemu sebagai sepasang kekasih semasa SMA di Surabaya. Setelah menikah, mereka menjalani hidup bersama. Tante Ratna sempat menghabiskan 20 tahun sebagai dokter dengan spesialisasi dalam giliran jaga ICU di Rumah Sakit Karolus dan Usada. Namun, jam kerja yang panjang dan malam-malam tanpa henti akhirnya membuat kesehatannya menurun. “Dulu kerja tiap hari jaga, akhirnya mata kena masalah. Sempet operasi juga di Singapura,” katanya dengan nada datar. Setelah operasi untuk memperbaiki retina yang robek, dia terpaksa berhenti dari dunia kedokteran.
Kisah hidup Om Robert sebelum mendirikan Swanie Ice Cream juga tak kalah menarik. Setelah menyelesaikan kuliah fisika dan biokimia, ia bekerja di berbagai tempat yang membawanya melintasi benua—dari Cile, Jepang, hingga kembali ke Surabaya dan Jakarta. Ia menguasai banyak bahasa, mengumpulkan cerita, dan memiliki pemahaman mendalam tentang berbagai hal yang menarik minatnya: antropologi, agama, dan pemasaran, yang bahkan pernah ia ajarkan di tingkat universitas. Obrolan bersama Om Robert ibarat gabungan antara pertunjukan stand-up comedy dan seminar filsafat, diselingi tawa atas kontradiksi yang ia lontarkan sendiri.
Melewati area tempat duduk kafe, pengunjung bisa mengintip fasilitas produksi di bagian belakang: dapur yang tampak sering diutak-atik. Beberapa mesin dirakit sendiri oleh Om Robert memanfaatkan latar belakangnya di bidang teknik dan seiring waktu terus disesuaikan dan dimodifikasi untuk memenuhi permintaan. Di dapur inilah Tante Ratna pertama kali menghidupkan kembali hobi lamanya membuat kue, sebuah keahlian yang ia pelajari dari ibu dan neneknya.
Teman dan tetangga menjadi pencicip setia kue-kuenya. Ketika kabar tentang keahliannya menyebar lebih cepat dari yang ia duga, reputasinya pun berubah. "’Sebenernya kamu itu pekerjaannya tukang kue’," katanya. Aku yang nggak nyangka sampe aku nggak jadi dokter," ia mengenang. Apa yang awalnya hanya sekadar hobi akhirnya menjadi panggilan jiwa, yang mendorongnya menjauh dari dunia medis dan beralih ke dunia kuliner.
Ketika ditanya bagaimana ia mendapatkan ide untuk membuka toko es krim, Om Robert menjawab tanpa ragu: inspirasinya datang dari AI. Tapi, pada tahun 2000, AI seperti yang kita kenal sekarang belum bisa diakses oleh banyak orang. “Kamu kan nggak tahu AI itu apa? Apa tuh?” katanya, dengan wajah begitu serius hingga kamu hampir memercayainya. Lalu, matanya berbinar dan bibirnya melengkung membentuk senyum nakal. “Artinya, Asal Idup.” Itu adalah guyonan sekaligus sebuah filosofi: bertahan hidup adalah yang utama, kecerdasan yang kedua, dengan dibumbui humor yang cukup untuk menjalankan keduanya.
Dorongan untuk membuka bisnis makanan penutup ini bukan tentang ambisi besar, melainkan kebutuhan mutlak. Setelah Om Robert di-PHK, mereka membutuhkan sumber pendapatan baru. Ia mengemasnya dengan sederhana, seperti yang sering ia lakukan: “Orang hidup itu kan cuma dua: Cari makan atau cari duit. Nah, saya baru tahap cari makan.” Baginya, PHK menjadi pemicu inspirasi untuk mencoba sesuatu yang baru. “PHK itu sebagai driving force untuk kita berpikir lebih ngawur,” jelasnya, menikmati kata ngawur seolah-olah itu adalah sebuah lencana kehormatan.
Ia juga menganut filosofi unik yang ia sebut sebagai dendam positif, semacam optimisme keras kepala yang mendorongnya untuk terus bereksperimen. Filosofi ini membuatnya selalu ingin tahu, berani berbeda, dan tak pernah kehabisan kata. Tante Ratna tersenyum saat mengenang pelanggan yang betah berlama-lama di kafe, jauh setelah es krim mereka habis, hanya untuk mendengarkan Om Robert berbicara. Bahkan ada yang datang khusus untuk bertemu dengannya. “Kalau dianya lagi nggak ada, mereka pulang aja,” tawanya sambil menggelengkan kepala.
Selain humor unik yang membuat tamu kembali lagi, ketangguhan Om Robert terbentuk sejak masa mudanya. Ia mengenang bagaimana ia hanya makan mi instan selama sebulan saat kuliah, dan ingin menanamkan semangat yang sama pada anak-anaknya. “Saya kirim anak saya ke Australia, jadi belajar masak sambil kerja sambil kuliah. Jadi saya nggak kirimin duit apa-apa.” Hari ini, salah satu anaknya tinggal di Sydney dan yang lainnya di Singapura, mengukir jalan mereka sendiri jauh dari deru mesin pendingin di toko orang tua mereka.
Jarak itu membuat toko, dan cerita-cerita di dalamnya, hanya ada di tangan Om Robert dan Tante Ratna. Mereka telah bekerja berdampingan selama lebih dari dua dekade, diikat oleh humor, improvisasi, dan ketangguhan. Swanie Ice Cream dinamai dari panggilan kesayangan Tante Ratna telah menjadi ikon di Kelapa Gading. Tentu saja, karena tempat ini tetap menjadi apa adanya: ruang hangat untuk bertahan hidup, menikmati manisnya es krim, dan berbagi cerita di meja yang sama.
Dan Om Robert, sesuai dengan karakternya, tak bisa mengakhiri percakapan tanpa sebuah candaan. “Kalau ada yang mau beli toko ini, kabarin saya aja,” katanya dengan gaya yang membuat orang lain bertanya-tanya apakah ia serius atau hanya bercanda. Sebuah pengingat bahwa baginya, segalanya bahkan warisan terbuka untuk improvisasi.